CALUNG BANYUMAS

1. Asal usul Musik Calung Banyumas

Musik bongkel yang selama ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal Angklung
dan Calung Banyumas. Anggapan ini cukup beralasan, sebab antara keduanya sebagian besar mengacu pada bongkel.  Hal ini terlihat jelas pada bentuk fisik instrumen, bahan baku, proses pembuatan, sistem pelarasan, struktur komposisi, dan teknik permainan dari
beberapa instrumen.

Bongkel adalah salah satu bentuk musik rakyat yang terdapat di desa
Gerduren, Banyumas (Jawa Tengah). Musik ini didukung oleh sebuah instrumen perkusi sejenis Angklung Bambu berlaras slendro.

Dalam satu bingkai terdapat empat tabung nada berbeda. Cara memainkannya dengan cara digoyang dan digetarkan menggunakan kedua tangan, serta diikuti tutupan
jari-jari tertentu untuk menentukan nada. Karakteristik permainan bongkel
terletak pada jalinan ritmis antara keempat tabung nada. Dalam perkembangannya bentuk jalinan-jalinan ini mengilhami lahirnya alat musik tradisional yang sejenis yaitu Angklung, Krumpyung dan Calung.

Bongkel pada awalnya berfungsi sebagai musik hiburan petani ketika berada
di ladang.  Namun, dalam perkembangannya kini fungsi musik tersebut bergeser menjadi musik jalanan (ngamen) dan musik ronda (jaga malam). Secara musikal, bongkel memiliki teknik permainan tinggi, unik, khas, dan tidak ada duanya baik di Banyumas, maupun di daerah Indonesia.

Berdasarkan analisis fisik, musikalitas, dan fungsi dapat diketahui bahwa bongkel termasuk musik bambu tertua di Banyumas. Setelah melalui proses perjalanan panjang, genre musik ini diduga mendapat pengaruh gamelan kemagan dan ringgeng yakni perangkat gamelan kecil yang biasa digunakan untuk mengiringi Lengger dan Ebeg.

Dari bongkel berkembanglah menjadi Buncis, kemudian dari buncis berkembang menjadi Krumpyung, dan dari krumpyung menjadi Calung.

Calung merupakan musik tradisional dengan perangkat mirip gamelan yang terbuat dari bambu wulung. Musik calung hidup di komunitas masyarakat pedesaan di wilayah sebaran budaya Banyumas. Menurut masyarakat setempat, kata “calung” merupakan jarwo dhosok (dua kata yang digabung menjadi kata bentukan baru) yang berarti carang pring wulung (pucuk bambu wulung) atau dicacah melung-melung (dipukul bersuara nyaring). Spesifikasi musik calung adalah bentuk musik minimal, yaitu dengan perangkat yang sederhana (minimal) namun mampu menghasilkan aransemen musikal yang lengkap.

Perangkat musik calung terdiri atas gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong dan kendhang. Perangkat musik ini berlaras slendro dengan nada-nada 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma) dan 6 (nem). Hingga sekarang calung masih berkembang di hampir seluruh wilayah budaya Banyumas.

2. Fungsi dan Peran

    Calung merupakan seperangkat alat musik tradisional yang terdapat di dalam suatu budaya masyarakat Banyumas yang lebih disebut dengan nama Gamelan Calung. Calung ini mempunyai sistem pelarasan yang relatif sama dengan pelarasan gamelan yang ada di wilayah Indonesia seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Sunda. Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan secara melintang dan dimainkan dengan cara dipukul.

    Calung biasa difungsikan sebagai alat musik dalam seni pertunjukkan seperti Lengger (seni tari) dan Ebeg (kuda lumping khas Banyumas).

    Pada era tahun 1970-an kehidupan calung sangat popular. Disamping berperan penting dalam kehidupan seni pertunjukan masyarakat Banyumas, Calung juga memiliki satu bentuk spirit musikal yang sangat kuat  sebagai daya ungkap seniman Banyumas.

    Kesenian Lengger Calung ini pun semakin berkembang dan mampu menempatkan posisinya sebagai seni pertunjukkan terdepan dari sederetan jenis pertunjukkan seni lainnya yang terdapat di Banyumas.

    Hal ini didukung dengan difungsikannya kesenian Lengger Calung sebagai kebutuhan sosial seperti acara hajat pernikahan, khitanan, tindik, dan keperluan ritual lainnya seperti syukuran (nadhar), sedekah bumi, dan sedekah laut.

    3. Perkembangan Kesenian Calung

      Seiring dengan perkembangan zaman, sikap dan selera masyarakat yang selalu berubah, maka sifat kesenian Calung ini tidak bisa mengelak dari kondisi tersebut. Perubahan kesenian Calung tampak sebagai gejala adanya faktor zaman yaitu bentuk dan penggarapannya.

      Perubahan penggarapan yang terjadi pada sajian gendhing-gendhing Banyumasan gamelan Calung telah tergeser oleh arus perkembangan zaman yang berorientasi pada selera pasar. Peristiwa tersebut menuntut adanya perubahan-perubahan penggarapan secara musikal maupun bentuk sajiannya. Semenjak awal tahun 1990-an, terlihat bahwa pertunjukkan Lengger tidak lagi didominasi oleh sajian gendhing-gendhing Banyumasan dengan Gamelan Calung melainkan lebih mengedepankan lagu-lagu pop (dangdut).

      Masuknya alat musik seperti gitar, keybord, seruling, drum, dan kendang dangdut ke dalam Lengger Calung merupakan awal bergesernya eksistensi musik Calung dan merosotnya kualitas penggarapan musiknya. Calung pun sudah tidak dianggap lagi sebagai medium ungkap yang cerdas melainkan telah diperlakukan sebagai barang mati yang tidak berarti apa-apa.

      4. Isi Kandungan Musik Calung

        Didalam musik Calung terkandung nilai-nilai kehidupan masyarakat Banyumas diantaranya :

        1. Semua yang terjadi didalam sajian musik calung merupakan semacam luapan emosi dari alam pikir dan alam rasa masyarakat Banyumas yang tidak dapat diungkapkan di dalam pergaulan sosial.
        2. Didalam sajian calung juga tertuang sikap-sikap kritis masyarakat Banyumas tentang falsafah hidup, tentang penderitaan, alam lingkungan, tentang kebahagiaan dan atau tentang segala sesuatu yang bersifat utopia.
        3. Banyak gendhing yang disajikan pada pertunjukan calung yang menggambarkan negeri impian, kebahagiaan ideal atau perasaan kesejatian yang hanya dapat diperoleh didalam impian. Sebagai contoh gendhing Gunungsari dan Eling-eling. Kata ‘gunungsari’ berasal dari kata ‘gunung’ dan ‘sari’ (bunga) yang berarti kebahagiaan puncak setinggi gunung.
        4. Sajian calung juga menuangkan ajaran dan atau ajakan untuk berbuat kebaikan, pernyataan sikap, larangan terhadap perbuatan menyimpang, kritik, sindiran atau bahkan sarkasme terhadap kejadian-kejadian umum sehari-hari di lingkungan pergaulan sosial. Kritik, sindiran atau sarkasme ini umumnya dilakukan melalui teks-teks syair (cakepan) yang diucapkan oleh sindhen atau senggak. Teks syair itu umumnya berbentuk parikan atau wangsalan yang disajikan dengan alur lagu tertentu sesuai dengan sajian gendhing yang sedang berlangsung.
        5. Melalui aktivitas musik calung, masyarakat Banyumas malakukan penuangan nilai-nilai ideal tentang hidup, sekalipun hal itu tidak selamanya berlangsung dalam realita kehidupan sosial. Penuangan nilai-nilai ideal itu dilakukan melalui proses pembayangan dan penjadian bentuk.

        SUMBER PUSTAKA

        http://panginyongan.blogspot.com/2008/12/seri-kesenian-lokal-banyumas-calung.html

        http://punklung.wordpress.com/

        http://groups.yahoo.com/group/banyumas/message/55264

        http://www.google.com

        About these ads

        Tinggalkan Balasan

        Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

        Connecting to %s

        Ikuti

        Get every new post delivered to your Inbox.

        Bergabunglah dengan 755 pengikut lainnya.

        %d bloggers like this: