Pencerahan Sederhana

Sudah cukup lama jari-jari ini tidak menuliskan suatu kisah yang terjadi dalam hidup sendiri bahkan orang lain.
Kali ini aku mencoba untuk menggoreskan kisah nyata sederhana yang aku alami dalam catatan ini.
“Suatu malam sekitar pukul 18.30 aku berjalan sendiri sembari menunggu angkot datang. Kalau tidak salah ingat, cerita ini terjadi pada pertengahan bulan januari 2012 (hemm sudah cukup lama). Aku duduk di pinggiran dekat trotoar Simpang Lima, ketika aku sedang asyik memainkan handphone ku, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku.
“Permisi mbakk….”,panggail anak kecil itu (kurang lebih usia anak kelas 5 SD).
kemudian aku menatapnya
” Iya dek, ada apa?”
“Mbak aku bisa minta uangnya 10.000 nggak mbak”
“Hemmm………Buat apa dek? tanyaku
“Buat angkot pulang, aku kehabisan uang mbak”
“Rumah kamu dimana?”
“Ungaran mbak”
“Jam segini apa masih ada bis ke Ungaran dek?”
“Masih mbak, aku ntar mau nyegat di bangkong deket SMP 2 mbak
Aku pun bertanya lagi
“Bis Ungaran kan udah nggak lewat daerah situ lagi dek, arahnya udah diubah”
“Hemmm…..masih kok mbak, aku pernah malam2 gini kalo pulang juga nyegat daerah bangkong situ”
“kan dulu dek, sekarang udah nggak ada” kemudian aku pun punya pikiran seperti ini
“Hemmm…atau gini aja dek, adek ikut mbak, nanti adek turun java terus naik angkot banyumanik, habis itu
adek bilang sama pak supirnya oper bis Ungaran?? gimana??”
Si anak pun berpikir dulu, kemudian dia….
“terima kasih mbak sebelumnya, nggak jadi aja wes mbak”
“lho kenapa dek? katanya nggak bisa pulang?”
Tiba-tiba anak itu duduk di sebelah aku,sambil sedikit menundukan kepalanya…
“Sebenarnya rumah aku nggak di Ungaran kok mbak, aku tinggal di daerah deket Simpang Lima aja”
Aku pun sedikit mengerutkan kening ku sambil berpikir dan bertanya-tanya….
“Lho, berarti adek bohong dong,bohong kan nggak baik dek?” (soluku)
“Iya mbak, maaf….aku terpaksa minta2 gini og mbak, biar dapet uang buat makan”
“Lha orang tua adek dimana sekarang?”
“Bapak nggak tau kemana mbak,minggat og, aku tinggal sama ibu aja (tanpa mau menjelaskan tepatnya dimana ia tinggal)
”Owww…..lha ibu kamu sekarang dimana?” tanyaku
“Ibu ini juga lagi minta2 di daerah matahari sana mbak sama nggendong adek, biar dapet uang banyak”
Aku pun hanya diam, kemudian memesan wedang ronde yang kala itu berhenti di depanku, aku pun pesan dua, percakapan pun berlanjut….
“Adek udah lama menekuni kegiatan minta2 gini?”
“Iya mbak,mau gimana lagi,sekarang apa-apa duit kok mbak”
Ingin melanjutkan percakapan, tapi angkot yang aku tunggu datang, aku pun berpamitan dengan si anak itu…
“Hemm dek maaf ya nggak bisa cerita lama2, angkot mbak udah datang, ini buat adek (aku memberikan uang 5.000), kemudian membayar wedang ronde,dan segera aku naik angkot yang sudah berhenti di depan ku.
Sepanjang perjalanan, aku ingat sesuatu (oya adek tadi namanya siapa ya, lupa tanya) tapi ya sudahlah. Di dalam angkot aku terus mengingat percakapan2ku dengan si anak itu. Batinku berbicara, Ya ALLAH ternyata sekurang-kurangnya hidup yang telah aku jalani, ternyata masih banyak orang di luar sana yang masih berjuang demi selembar bahkan sekeping uang untuk mempertahankan hidupnya,aku bersyukur hidup dalam keluargaku sekarang yang sudah cukup peduli terhadap kehidupan yang aku jalani. Terima kasih ALLAH, telah mempertemukan aku dengan si anak malang itu, percakapan yang begitu sederhana namun mempunyai makna yang memberikan suatu pencerahan dalam diriku untuk selalu bersyukur kepada Engkau.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: